Angklung merupakan alat musik tradisional dari Jawa Barat yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Angklung menjadi salah satu alat musik tradisional yang cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Sebagai wujud apresiasi sekaligus upaya pelestarian tradisi musik angklung, acaraki menghadirkan inovasi alat musik bernama Angklung Selayang.

Lebih dari sekadar alat musik, Angklung Selayang merupakan wujud revitalisasi budaya yang menyentuh ranah seni dan makna. Revitalisasi ini memadukan angklung dengan aksara Nusantara melalui ukiran aksara pada permukaan tabung angklung.
Pada setiap tabung Angklung Selayang terukir lagu daerah yang ditatah langsung menggunakan aksara asli dari daerah asal lagu tersebut. Seperti misalnya lagu Manuk Dadali ditulis dalam aksara Sunda, Butet dalam aksara Batak, Kiku Deri dalam aksara Lota Ende, serta Cublak-Cublak Suweng dalam aksara Jawa. Pendekatan ini menjadi upaya Angklung Selayang dalam melestarikan musik tradisional sekaligus bentuk kepedulian terhadap aksara Nusantara yang kian jarang digunakan.


Proses Panjang Pembuatan Angklung Selayang
Angklung Selayang lahir dari ketekunan, kolaborasi, dan kecintaan terhadap budaya. Proses pembuatannya pun memerlukan waktu yang relatif panjang dan melalui beberapa tahapan. Pada tahap awal, tim Angklung Selayang melakukan riset dengan menemui para penutur asli bahasa daerah guna memperoleh data yang valid, mulai dari penutur bahasa Batak, Sunda, hingga Lota Ende.
Setelah data terkumpul, proses selanjutnya adalah proses produksi angklung sesuai kaidah pembuatan angklung tradisional. Pemilihan bambu, pengukuran tinggi ruas, diameter, serta ketebalan bambu dikerjakan secara cermat guna menghasilkan getaran nada yang stabil. Proses ini dilakukan di Saung Udjo, sebuah sentra angklung yang telah diakui kualitas dan reputasinya di Indonesia.

Tahap selanjutnya adalah proses pengukiran aksara pada permukaan tabung angklung. Ukiran ditatah secara langsung oleh tangan-tangan terampil para seniman dari Kota Tua Jakarta. Seluruh proses dikerjakan satu per satu, dengan tingkat ketelitian tinggi, dan sepenuhnya menggunakan teknik ukir tradisional.
Setiap ukiran tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, melainkan juga membawa cerita tentang asal-usul lagu, identitas budaya, serta semangat pelestarian melalui nada dan aksara. Ukiran-ukiran tersebut juga menjadi perwujudan dedikasi para pengukir tradisional dalam menghadirkan karya seni yang sarat makna. Angklung Selayang pun lahir sebagai produk budaya yang dibentuk melalui standar pengerjaan yang tinggi.


Angklung Selayang dirancang dengan sistem knockdown sehingga mudah dirangkai dan dibongkar. Sistem ini memungkinkan proses distribusi menjadi lebih efisien, baik untuk pengiriman ke luar kota maupun ke luar negeri.
Dengan demikian, Angklung Selayang tidak hanya mengemban misi pelestarian musik tradisional Indonesia, tetapi juga memperkenalkan kekayaan aksara Nusantara ke kancah internasional.
