Harmoni Bambu Dari Tanah Sunda

Angklung

Angklung adalah salah satu alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari daerah Jawa Barat. Angklung terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara digoyangkan. Angklung tidak hanya menghasilkan suara yang khas, tetapi juga mengajarkan nilai kerja sama.

Menurut Ningsih dalam Jurnal COLLASE (2010), nama angklung diyakini berasal dari bahasa Sunda angkleung-angkleungan, yang merujuk pada gerakan tubuh saat alat ini dimainkan.

Menurut Sumaludin (2022) dalam Jurnal Prabayaksa, catatan tertua mengenai angklung terdapat dalam kitab Nagarakertagama. Dalam naskah tersebut, tercatat bahwa angklung dimainkan dalam upacara penyambutan Raja Hayam Wuruk saat mengadakan peninjauan ke wilayah timur Pulau Jawa.

Pada tahun 1938, seorang guru HIS (Hollandsch-Inlandsche School) bernama Daeng Soetigna membuat terobosan besar dengan mengubah sistem nada angklung dari pentatonis ke diatonis. Atas Inovasi tersebut, beliau dinobatkan sebagai “Bapak Angklung Indonesia”.

Inovasi angklung kemudian diteruskan oleh Mang Udjo (Udjo Ngalagena), pendiri Saung Angklung Udjo di Bandung. Tempat ini menjadi pusat pelatihan, pertunjukan, dan pelestarian angklung hingga sekarang.

Selain angklung modern karya Daeng Soetigna, di pelosok Jawa Barat masih ditemukan berbagai jenis angklung tradisional, seperti Angklung Gubrag dari Bogor, Angklung Badeng dari Garut, Angklung Buhun dari Banten, Angklung Bungko dari Cirebon, serta Angklung Dogdog Lojor dari Kasepuhan adat.

Angklung terbuat dari dua hingga tiga tabung bambu dengan panjang berbeda, yang diikat menggunakan rotan pada sebuah bingkai bambu. Tabung-tabung ini dipotong dan disetel untuk menghasilkan nada tertentu. Cara memainkan angklung dengan menggoyangkan rangka angklung, sehingga udara yang mengalir menghasilkan resonansi khas.

Di balik kesederhanaannya, teknik bermain angklung sebenarnya cukup kompleks. Ada teknik cetok untuk suara tajam dan cepat, serta teknik tengkep untuk nada yang lembut dan terkontrol.

Salah satu keunggulan angklung adalah inklusivitasnya. Alat musik ini bisa dimainkan siapa saja, mulai dari anak-anak, orang dewasa, pemula, hingga musisi profesional. Tak heran bila angklung digunakan dalam ranah pendidikan musik di sekolah-sekolah, pertunjukan budaya, dan forum internasional.Salah satu keunggulan angklung adalah inklusivitasnya. Alat musik ini bisa dimainkan siapa saja, mulai dari anak-anak, orang dewasa, pemula, hingga musisi profesional. Tak heran bila angklung digunakan dalam ranah pendidikan musik di sekolah-sekolah, pertunjukan budaya, dan forum internasional.

Pada November 2010, angklung mendapat pengakuan resmi dari UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity). Angklung tak hanya dinilai sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai sarana dalam mengajarkan kolaborasi, toleransi, dan semangat kebersamaan.