Memadu Inovasi Dalam Tradisi Angklung Nusantara

Angtronic

Angtronic atau Angklung Elektronik, merupakan wujud pertemuan antara tradisi dan teknologi. Lebih dari sekadar pertunjukan musik, Angtronic hadir sebagai inovasi yang menjembatani masa lalu dan masa depan. Sebuah upaya memastikan bahwa warisan budaya tetap relevan dan mampu berjalan beriringan dengan perkembangan zaman.

Dalam menghadirkan Angtronic, acaraki berkolaborasi dengan Lukman Sinara dari Studio Sinten. Perpaduan tradisi dan teknologi modern ini mengintegrasikan sistem robotik dalam proses pengembangannya. Robot dirancang agar dapat bergerak secara otomatis dan dinamis melalui sensor khusus.

Sebanyak 28 angklung bergerak selaras dengan alunan musik. Angklung digerakkan bukan oleh tangan manusia, melainkan oleh motor yang diprogram secara presisi dan disesuaikan dengan komposisi musik. Hasilnya, permainan angklung tetap menghadirkan kesan hidup, seolah dimainkan oleh para pemain profesional sesungguhnya.

Harmoni dari Kolaborasi Lintas Profesi

Angtronic tercipta melalui kerja sama banyak pihak, mulai dari seniman, pengrajin angklung, pekerja bengkel pemesinan, pengrajin ukir, hingga dosen, dan mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika Universitas Sanata Dharma. Kolaborasi lintas profesi ini tidak hanya menjadi kunci terwujudnya Angtronic, tetapi juga simbol pentingnya setiap peran dalam menciptakan inovasi dan harmoni. Layaknya angklung yang tersusun dari berbagai ukuran bambu, perbedaan latar belakang justru menjadi sumber keselarasan.

Desain Angtronic dibuat menyerupai pohon yang melingkar ke atas, menjadi simbol harapan akan Indonesia yang terus tumbuh, berkembang, dan memberi keteduhan bagi masyarakatnya. Untuk menegaskan makna tersebut, Angtronic pertama kali dipentaskan pada momen peringatan 80 tahun Indonesia di Sarinah. 

Dua lagu kebangsaan yang dibawakan adalah Indonesia Raya karya W.R. Supratman dan Tanah Airku karya Ibu Sud, mengiringi harapan besar akan terwujudnya Indonesia yang harmonis dan sejahtera.