Bagi masyarakat Papua, noken bukan sekadar tas rajut. Dari simpul-simpul benangnya, tersimpan kisah tentang alam, kehidupan, dan nilai budaya yang diwariskan turun-temurun, hingga diakui dunia sebagai warisan berharga yang perlu dijaga.

Noken terbuat dari kulit kayu, akar, atau daun tumbuhan tertentu yang memiliki serat kuat, seperti kleuwa (mahkota dewa), abolo (melinjo), rhuu (sukun), serta hamnak (tanaman yang umum dijadikan bahan baku noken). Serat ini direndam, dipilin, lalu diwarnai dengan pewarna alami.
Tanah merah dan kesumba memberi warna merah, arang pinus menghasilkan warna hitam, sedangkan kunyit memberikan warna kuning. Dari proses inilah tercipta benang warna-warni yang kemudian dirajut menjadi tas dengan ukuran dan fungsi beragam.


Ukuran noken dibedakan menjadi beberapa jenis. Mitutee, noken berukuran kecil, biasanya untuk menyimpan barang pribadi seperti ponsel. Gapagoo, noken berukuran sedang, digunakan untuk berbelanja. Yatoo, berukuran besar, dapat dipakai untuk membawa hasil panen, kayu, bahkan menggendong bayi.
Dalam banyak komunitas di Papua, seperti suku Dani, Mee, atau Biak, kemampuan merajut noken menjadi salah satu penanda kedewasaan perempuan, keterampilannya sering menjadi tolok ukur kesiapan menuju pernikahan.


Di beberapa wilayah seperti suku Asmat dan Mee, laki-laki juga ikut merajut, menunjukkan bahwa tradisi ini bukan semata urusan gender, melainkan bentuk kecintaan terhadap budaya dan warisan nenek moyang.
Tidak ada dua noken yang benar-benar sama. Papua memiliki lebih dari 250 suku, hampir semuanya memiliki tradisi merajut noken. Perbedaan gaya, pola, ukuran, bahkan makna, tergantung wilayah dan suku yang membuat noken tersebut. Nama noken pun beragam, seperti Jum di suku Dani, Inoken di Biak, Koroboi di Sentani, atau Qya Qsi di masyarakat Tehit.


Demi melestarikan noken, komunitas adat, yayasan budaya, dan desainer lokal mulai mengangkat noken ke panggung fashion dan industri kreatif. Noken kini tampil di peragaan busana, bahkan menjadi ikon diplomasi budaya tingkat internasional. Perlindungan hutan Papua menjadi bagian penting dari upaya pelestarian, sebab tanpa hutan, noken akan kehilangan bahan bakunya, dan tanpa budaya, noken kehilangan makna di setiap simpulnya.
Kemudian pada tahun 2012, noken diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia yang memerlukan perlindungan mendesak. Penetapan ini diumumkan dalam sidang ke-7 Komite Antar-Pemerintah di Paris.


Penetapan tersebut menandai peringatan Hari Noken Sedunia setiap tanggal 4 Desember.