Jika Indonesia adalah lautan cerita, maka Pinisi adalah kapal yang membawa kisah itu berlayar. Ia adalah memoar kayu yang menolak tenggelam. Ia menjadi legitimasi kekuatan maritim suku Bugis sejak berabad lalu. Pinisi bukan sekadar perahu. Ia adalah suatu cerita dan kisah tentang tangan-tangan yang mengukir laut. Tentang kayu yang tak gentar menantang gelombang. Tentang warisan yang sekarang diakui oleh dunia. Sebuah kebanggan yang lahir dari tangan dan kreativitas anak negeri.

Dikutip dari buku Pinisi karya Muhammad Arief Saenong, nama Pinisi berasal dari kata panisi yang berarti sisip. Mappanisi dalam bahasa Bugis artinya menyisip, yaitu menyumbat semua persambungan papan, dinding, dan lantai kapal dengan bahan tertentu agar tidak kemasukan air. Dalam Bahasa Bugis, Lopi dipanasi berarti perahu yang disisip. Diduga kata panisi mengalami proses fonemik menjadi Pinisi.
Jejak kapal Pinisi tertulis dalam naskah kuno La Galigo yang mengisahkan tentang kejayaan dan semangat pelaut dari timur.


Sejarah kapal Pinisi selalu dikaitkan dengan kisah perjalanan Sawerigading, pangeran dari kerajaan Luwu yang kapalnya pecah diterjang badai dan gelombang. Serpihan kapal tersebut dikumpulkan dan dirakit kembali oleh masyarakat Ara, Tanah Beru, dan Lemo-lemo. Dari hasil rakitan itulah masyarakat setempat mendapat ilham dasar dalam pembuatan perahu dari kepingan papan.
Tokoh utama dalam pembuatan kapal Pinisi adalah punggawa atau panrita lopi (tukang ahli). Seorang Panrita lopi inilah yang bertugas sebagai penanggung jawab utama atas seluruh proses pembuatan pinisi. Dalam bekerja, seorang panrita lopi dibantu oleh tukang lainnya yang sering disebut dengan istilah sawi.


Kapal Pinisi berdiri gagah dengan dua tiang utama dan tujuh layar yang membentang: 3 layar di depan, 2 layar di tengah, dan 2 layar di buritan. Berbeda dengan kapal modern pada umumnya, kapal Pinisi menggunakan kayu sebagai material utama.
Jenis kayu yang biasa digunakan untuk membuat kapal Pinisi adalah kayu jati, kayu bitti, kayu besi, dan juga kayu kandole/punaga. Uniknya lagi, setiap komponen dari kapal Pinisi dirakit tanpa menggunakan paku logam dan lem. Tiap bagian kapal disatukan dengan pasak kayu dan ikatan tali yang dililit berpedoman pada pengetahuan khusus yang diwariskan secara turun-temurun.


Setidaknya ada tiga tahapan penting yang perlu dilakukan dalam proses perakitan kapal Pinisi yaitu penentuan hari baik untuk mencari kayu, proses menebang, mengeringkan dan memotong kayu, dan terakhir peluncuran Pinisi ke laut.
Dulunya kapal Pinisi sering digunakan oleh para pelaut Konjo, Bugis, dan juga Mandar untuk kebutuhan perdagangan antarpulau. Namun sekarang, kapal Pinisi banyak digunakan untuk kebutuhan pariwisata yang memberikan experience berlayar yang menakjubkan bagi para wisatawan.


Pada tanggal 7 Desember 2017, dalam sidang ke-12 UNESCO di Jeju, Korea Selatan, Pinisi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia dengan judul nominasi Pinisi: Art of Boatbuilding in South Sulawesi (nomor nominasi 01197).