Dari Legenda Cinta Hingga Pengakuan Dunia

Reog Ponorogo

Reog Ponorogo tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga dalam momen-momen sakral. Dari upacara bersih desa, khitan, pernikahan, hingga penyambutan tamu negara, Reog selalu punya tempat istimewa. Ia bukan sekadar tarian penuh energi, melainkan juga ritual. Di balik gerak yang dinamis, ada sesaji, doa, dan upaya untuk terus menjaga keseimbangan antara alam gaib dengan dunia manusia.

Pada tanggal 3 Desember 2004 UNESCO secara resmi mengakui kesenian Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda yang memerlukan perlindungan mendesak. Pengakuan ini lahir dalam sidang Intergovernmental Committee for Safeguarding of Intangible Cultural Heritage Sesi ke-19 yang berlangsung di Asuncion, Paraguay.

Reog Ponorogo sendiri merupakan seni pertunjukan khas dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kesenian ini memadukan antara tari, musik, serta mitologi yang penuh simbol.

Menurut Legenda, kesenian Reog Ponorogo berawal dari kisah cinta Raja Kelana Sewandono dari Kerajaan Bantarangin yang jatuh hati pada Putri Kediri, Dewi Ragil Kuning. Dalam perjalanannya menjemput sang pujaan hati, ia dihadang oleh Raja Singa Barong, sang penguasa hutan Lodaya, yang merupakan makhluk mitologi berkepala harimau dengan mahkota megah berbulu merak. Pertempuran dahsyat pun terjadi, hingga akhirnya berujung pada perdamaian.

Sejak saat itu, Reog Ponorogo menjadi alegori dari kisah pertempuran dan perjalanan sang Raja. Setiap karakter yang muncul di panggung punya perannya sendiri : Kelana Sewandono sang raja pemberani, Bujang Ganong si patih muda yang lincah dan jenaka, Warok sang penjaga spiritual yang disegani, dan Jathil sebagai prajurit berkuda yang gagah.

Dalam pertunjukan pentas kesenian Reog Ponorogo, yang paling mencuri perhatian tentu saja sang pembarong, dengan ciri khas dadak merak-kepala harimau berhias bulu merak yang menjulang tinggi. Seorang pembarong harus mampu menari sambil menggigit batang kayu di dalam topeng yang beratnya bisa mencapai 50-60 kilogram.

 

Keindahan pertunjukan Reog lahir dari kerjasama. Para pemusik menghidupkan suasana dengan kendang, gong, dan terompet. Penjahit kostum merangkai kain beludru berhiaskan bordir emas, pengrajin menatah topeng Bujang Ganong dan membuat hiasan megah di pundak para penari. Satu penampilan Reog adalah wujud nyata gotong royong yang melibatkan sanggar seni, tokoh adat, hingga pemerintah desa.

Untuk melestarikan eksistensi reog pemerintah, seniman, dan komunitas pecinta budaya bersatu menjaga nyala tradisi ini. Dari memasukkan Reog ke dalam materi pelajaran sekolah, mendirikan sanggar-sanggar, menggelar festival tahunan, hingga mendirikan balai penangkaran merak.