Dalam upaya merevitalisasi wayang sebagai aset budaya bangsa, acaraki meluncurkan musik video Shadow of The Light yang dikemas secara kontemporer. Selain menonjolkan sisi artistik dan emosional, proyek ini juga menjadi bentuk aksi nyata dalam pelestarian budaya. acaraki berkomitmen menyumbangkan Rp 1.000 dari setiap like di video tersebut dengan total maksimal Rp 1 miliar kepada perguruan tinggi guna menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan wayang.

Shadow of The Light merupakan music video bertema wayang yang digagas dan diproduksi langsung oleh acaraki. Tujuannya sederhana tetapi penting, yakni mengajak anak muda untuk lebih mengenal nilai, filosofi, dan seni wayang yang telah menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia.
Dalam aspek musikal, Shadow of The Light menggabungkan elemen orkestra dengan gamelan, didukung nyanyian bergaya pop yang dipadukan dengan sinden. Liriknya pun mengintegrasikan wangsalan berbahasa Jawa dengan lirik berbahasa Inggris, menciptakan dialog lintas budaya dan generasi.



Apresiasi Perjalanan Lintas Generasi
Shadow of The Light mengisahkan perjalanan tiga generasi seniman yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi wayang kulit: Pandu, Arjuna (Juna), dan Wati. Pandu adalah sosok yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk wayang. Namun, obsesinya justru menjauhkan sang anak, Juna, dari tradisi tersebut. Retak yang tercipta membuat warisan ini seakan kehilangan harapan untuk berlanjut
Namun, harapan tersebut muncul kembali melalui Wati, generasi berikutnya. Ia menyadari bahwa wayang tidak bisa hanya berdiri di satu zaman. Wayang harus menyeberang, merambah ruang baru, dan menyapa generasi muda dengan bahasa mereka. Dari sinilah lahir inovasi wayang dalam bentuk Virtual Reality.


Kerja keras seluruh tim produksi Shadow of The Light membuahkan hasil yang membanggakan. Karya ini berhasil meraih berbagai penghargaan di festival film internasional, seperti Avignon Festival (Prancis), London Music Video Festival (Inggris), Bangkok Movie Awards, dan New York International Film Award. Selain itu, Shadow of The Light juga menjadi nominasi di International Film Festival The Hague (Belanda), Experimental, Dance, & Music Film Festival (Kanada), serta ReelOz Film Festival (Australia). Apresiasi ini tidak hanya menjadi bukti bahwa wayang mampu diterima oleh masyarakat internasional, tetapi juga menjadi penanda awal harapan bahwa wayang memiliki potensi untuk diterima dan dilestarikan oleh generasi muda Indonesia.