Cepat, serempak, dan penuh semangat itulah kesan pertama kebanyakan orang saat melihat tari Saman. Namun, di balik gerakan yang harmonis, tersimpan nilai-nilai sosial, spiritual, dan budaya yang menjadikan tarian ini lebih dari sekadar pertunjukan seni.

Tari saman merupakan warisan budaya yang berasal dari masyarakat suku Gayo, khususnya Gayo Lues yang menghuni wilayah Aceh Tenggara dan Aceh Timur.
Dikutip dari formulir pengajuan tari Saman sebagai Intangible Cultural heritage UNESCO (2011), tari Saman dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang menjadikan tarian ini sebagai media dakwah untuk menyampaikan ajaran agama Islam di wilayah tersebut, khususnya dalam hal tauhid dan ibadah.


Menurut Henniwati (2012) dalam Jurnal Seni Mangkalangan, tari Saman mulai menyebar ke seluruh wilayah di Provinsi Aceh berkat peran Syekh Abdurrauf As-Singkili atau Syiah Kuala, dan kemudian diteruskan oleh tokoh-tokoh lain seperti Syekh Habib Syap dan Tengku Syekh Wahab. Dari sana, tari Saman berkembang ke berbagai desa di Kecamatan Blangkejeren dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Gayo.
Secara tradisional, tari Saman dimainkan oleh belasan atau puluhan penari laki-laki dalam jumlah ganjil. Namun, saat ini tarian tersebut sering dibawakan oleh kelompok yang lebih kecil, biasanya kurang dari sepuluh orang. Para penari terdiri dari beberapa peran, yaitu syekh (pemimpin), pengapit, penupang, dan penyemput (pengunci).


Tari Saman memiliki dua bentuk pertunjukan: Saman alu (pertunjukan tanding) dan Saman Hiburan. Saman Jalu menampilkan balas-balasan syair berisi nasihat atau sindiran, dengan variasi gerak yang lebih ekspresif.
Sementara itu, Saman Hiburan lebih menonjolkan kekompakan gerak dan irama lagu, meskipun kadang tetap diselipi syair.


Pementasan tari Saman tidak diiringi alat musik, iringan suara yang dihasilkan berasal dari tepukan tangan dan pukulan ke dada serta paha penari yang menciptakan irama serempak.
Gerakan tari Saman terdiri dari beberapa tahapan, yaitu tahap pembuka dengan salam (persalaman), kemudian dilanjutkan dengan uluni lagu, gerakan lembut yang diiringi nyanyian pembuka.


Setelah itu masuk ke tahap lagu-lagu, para penari menyanyikan berbagai syair dengan irama yang mengikuti gerakan tari. Terakhir adalah tahap penutup, ditandai dengan nyanyian berbeda dari pembuka dan gerakan yang selang-seling atau dikenal dengan istilah surang saring.
Pada pertunjukkan Tari Saman, para penari mengenakan kostum yang terdiri dari tiga bagian. Pada bagian atas kepala terdapat lambang burung teleng atau tengkuluk dengan dasar kain hitam berbentuk empat persegi dengan dua persegi yang disulam menggunakan benang.


Sementara pada bagian badan para penari mengenakan baju Kerawang Gayo dengan celana dan kain sarung, kemudian pada bagian tangan penari memakai topeng gelang dan sapu tangan. Kostum para penari Saman ini memiliki filosofi kekompakkan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian, dan keharmonisan.
Tari Saman diakui oleh UNESCO pada tanggal 24 November 2011 sebagai Warisan Budaya Takbenda kategori Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding. Tari Saman memiliki nilai historis, estetis, dan spiritual yang melekat kuat dalam kebiasaan masyarakat Aceh.
