Apa yang terbayang pertama kali saat mendengar kata jamu? Pahit dan tradisional. Wajar, karena citra itulah yang selama ini melekat pada jamu. Namun, bagaimana seandainya jika jamu ternyata bisa dinikmati siapa saja tanpa harus merasakan pahit dan kesan tradisional?

Inilah inovasi yang dilakukan acaraki, menggabungkan teknologi pemrosesan mesin kopi dengan jamu. Alih-alih diperas dan direbus dalam panci, jamu diseduh layaknya kopi menggunakan teknik pour over, ekstraksi dengan mesin espreso, atau manual brewing oleh barista bergaya kedai kopi.
Cara Baru Menikmati Jamu
Jamu dan kopi pada dasarnya memiliki banyak persamaan. Keduanya berasal dari tumbuhan dengan rasa dasar pahit, sama-sama direbus atau diekstraksi untuk mendapatkan khasiatnya, dan dikonsumsi hampir setiap hari. Namun, kopi mampu berkembang menjadi gaya hidup anak muda hingga sekarang, sementara jamu tidak. Kemudian muncul pertanyaan sederhana, mengapa demikian? Perbedaan “nasib” inilah yang mengawali riset panjang yang dilakukan acaraki.


Saat ini, kopi telah berada pada gelombang ketiga, sementara jamu masih jauh tertahan di gelombang pertama. Jamu masih dikonsumsi secara tradisional, digodog di rumah atau disajikan dalam bentuk sachet instan. Fungsinya pun masih dipahami sebatas “obat” berkhasiat yang diminum hanya saat sakit atau untuk menjaga daya tahan tubuh.
Ditambah dengan stigma pahit yang masih melekat kuat dan aroma yang menyengat menjadikan jamu semakin jauh ditinggalkan. Berbeda dengan kopi yang meskipun pahit tetapi memiliki aroma yang menggoda.


acaraki berupaya mengubah stigma negatif tersebut melalui metode penyeduhan jamu yang baru. Di acaraki, jamu tidak digodog hingga over-extraction yang menyebabkan rasanya pahit dan aromanya tajam. Pemrosesan jamu dimodifikasi dengan teknologi ala kopi yang lebih modern dan terseleksi.
Revitalisasi inilah yang akhirnya menjadi pendorong lahirnya gelombang baru jamu. Berbagai uji coba mempertemukan alat kopi dengan jamu untuk menemukan teknik seduh yang paling tepat pun dimulai: french press, pour over V-60, manual espresso, syphon, hingga aeropress. acaraki juga menambahkan bahan lain seperti sparkling water, es krim, yogurt, dan susu untuk menciptakan pengalaman rasa yang baru. Jika kopi sukses dengan inovasi fusion-nya, jamu pun semestinya bisa.

acaraki dirancang layaknya kafe kopi kekinian dengan konsep terbuka. Jamu yang dipesan diseduh langsung di hadapan konsumen oleh para acaraki atau peracik jamu, sebagaimana kopi diracik langsung oleh barista.
Melalui pendekatan ini, acaraki berharap konsumen dapat merasakan budaya baru dalam menikmati jamu. Mengapresiasi jamu sebagai karya cipta, rasa, dan karsa manusia dalam mengolah tanaman asli Indonesia melalui tradisi leluhur. acaraki adalah Art of Jamu.
