Tari tradisional Bali merupakan pertunjukkan seni yang melibatkan seluruh gerakan tubuh, tangan, dan kaki sebagai medium utama. Dalam mengolah gerak, tari tradisional Bali mengenal konsep ngunda bayu, yaitu teknik mengatur dan memutar energi tubuh agar gerakan tari terlihat bertenaga dan luwes. Penerapan konsep ngunda bayu dalam tari Bali tercermin pada nilai estetika yang dikenal dengan istilah wiraga, wirasa, dan wirama. Para penari lokal di Bali percaya ketiga elemen ini membuat gerakan tari menjadi hidup, kuat, dan dinamis karena dipengaruhi oleh energi spiritual dari alam, yang dikenal sebagai taksu.

Gerakan dalam tarian tradisional Bali memiliki unsur ritual dan teatrikal yang telah berkembang sejak masa Bali kuna, Bali Hindu, hingga Bali modern.
Seni tari tradisional Bali mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Di era tersebut nilai-nilai estetika Hindu mulai diadaptasi menjadi dasar dalam penciptaan tari, yakni satyam (kebenaran), siwam (kesucian), dan sundaram (keindahan).


Tidak semua tari tradisional Bali dipentaskan sebagai tontonan teatrikal di atas panggung. Bali mengklasifikasikan tari tradisionalnya menjadi tiga jenis, yaitu tari wali (sakral), tari bebali (semi sakral), dan tari balih-balihan (hiburan). Berdasarkan klasifikasi ini, beberapa jenis tari hanya ditampilkan dalam konteks adat dan tidak untuk pertunjukan umum.
Tari tradisional Bali ditampilkan oleh penari pria maupun wanita dengan mengenakan busana khas berupa kain berwarna cerah bermotif bunga atau hewan, serta dilengkapi dengan pernak pernik bernunsa emas dan permata yang menambah kesan elegan.


Tari Bali biasanya diajarkan secara informal melalui sanggar tari kepada anak-anak sejak usia dini secara berkelompok.
Sembilan Tari tradisional Bali telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda melalui Sidang ke-10 Komite Budaya Takbenda UNESCO di Windhoek, Namibia pada Selasa, 2 Desember 2015.


Sembilan tari tersebut ialah tari Rajeng Dewa (Klungkung), tari Sang Hyang Dedari (Karangasem), tari Baris Upacara (Bangli), tari Gambuh (Gianyar), tari Wayang Wong (Buleleng), tari Topeng Sidakarya/Pajegan (Tabanan), tari Legong Keraton (Denpasar), tari Joged Bumbung (Jembrana), dan tari Barong Ket Kunti Sraya (Badung).